BELAJAR NGAJI

Hukum

Akhirnya orang utan bisa tidur nyenyak setelah beberapa hari mikirin judul, Mas Lupus tukang nasi goreng demikian mereka memanggilnya, semakin hari semakin semangat menambah pundi-pundi rupiah karena diserbu para pelanggan, tukang vermax pakaianpun nampak sumringah semenjak kedatangan istrinya dari kampung, sementara aku masih sibuk dengan batok kelapa sambil perlahan menyempatkan waktu untuk menulis beberapa artikel.

Terlihat dua orang laki-laki duduk manis diatas kursi menikmati es kelapa muda, sambil bercengkerama. Sesekali mereka saling melemparkan pertanyaan dari headline surat kabar yang mereka baca. Ternyata mereka sedang membicarakan beberapa kasus hukum disuatu negara yang tak pernah tuntas layaknya proyek yang mangkrak.

Pelik memang membahas masalah seperti ini, tanpa adanya kejujuran dari para praktisi ataupun penegak hukum maka keputusan yang diambilpun seolah mencoreng norma-norma keadilan. Entah ini suatu kejadian diluar rencana mereka atau sudah menjadi tradisi turun temurun, aku lebih memilih apatis untuk hal semacam ini, dan memang kebetulan sudah sangat lama sekali aku tidak mau ikut campur untuk urusan yang tidak mengganggu hajat orang banyak. Menegakkan hukum seadil-adilnya hanya menjadi omong kosong belaka jika kita tidak tahu apa yang disebut adil.

Adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Peci ditempatkan diatas kepala, sedangkan sandal ditempatkan di bawah kaki, itulah yang disebut adil. Satu keluarga mempunyai dua orang anak, anak ke-1 di Sekolah Dasar (SD) sedangkan anak ke-2 di Perguruan Tinggi, jika orang tua bersikap adil dalam pembagian uang jajanpun harus diukur sebagaimana kebutuhan dan fungsinya, nah itu contoh kecil menerapkan kata adil dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi dalam menerapkan hukum yang menyangkut hajat orang banyak, tentu harus seadil-adilnya. Jadi yang dimaksud adil itu bukan 50:50 !!!

Apa yang disebut Hukum menurut Ilmu Tauhid?

Hukum itu artinya ketetapan. Tetap, tidak bergerak dan tidak bergeser apalagi berubah. Tetap dan tepatnya suatu objek tergantung dari cara menerapkan hukum. Seorang pemanah siap dengan busur panahnya, untuk melepaskan anak panah tepat pada sasaran yang dituju, tentunya harus punya takaran dan perhitungan, tekanan atau tenaga yang harus dikerahkan, bahkan mengukur gerak anginpun menjadi cara yang efktif.

Dalam Kitab Majmu Atul Aqidah Jilid I dijelaskan:

اِسْبَتُ اَمْرٍ لِاَمْرٍ اَوْ نَفيُهُ عَنْهُ

artinya: “menetapkan suatu perkara dengan perkara yang tepat, ataupun menghilangkan suatu perkara dari perkara tersebut”.

Jika kita menulis di papan tulis yang berwarna putih dengan menggunakan spidol berwarna hitam maka warna putih itu hilang, yang terlihat adalah warna hitam, tidak mungkin hitam bercampur dengan putih, apalagi salah dan benar tidak akan berdiri dalam satu posisi. Jika ada sesuatu yang dianggap salah menjadi samar-samar maka dalam penerapan hukumnya tidak tepat.

Allah SWT, menetapkan hukum pada setiap perkara terutama yang bersangkutan dengan Adat, Akal dan Syara’ seperti adanya Wajib, Haram, Sunat, Makruh, dan Mubbah (wenang) demikian yang terangkum dalam Khitab Taklif. Adapun penjelasan mengenai Sabab, Sarat, Sah, Fasid, dan Mani’. semua itu tetap dan tepat, sebagaimana yang terangkum dalam Khitab Wadhi’,nah itulah hukum yang sebenar-benarnya. Demikan pula dalam menetapkan salah dan benar, seorang hakim harus adil dalam menerapkan hukum terhadap yang salah dan benar. Jika melihat kondisi sekarang ini hukum menjadi samar, tidak jelas apakah satu pihak salah dan satu pihak benar, bahkan sampai sekarangpun banyak sekali kasus hukum yang belum tuntas. Lalu apa gunanya akhirat jika semua urusan didunia ini tuntas? karena Mahkamah Rabbaniyah adalah tempat yang paling tepat untuk menuntaskan masalah.

Menerapkan keadilan dinegeri ini seperti membahas asap tapi kayunya masih dibakar, itu adalah hal yang bodoh, apalagi yang benar-benar bersalah masih bisa jalan-jalan ke mall ataupun kunjungan keluar negeri. Semoga kita dapat memilih takaran yang tepat karena dengan pilihan itu akan menentukan baik dan buruknya nasib kita.

Didunia ini bukan tempat untuk menuntaskan masalah, tapi untuk mengerjakan masalah

nunulis © n⭕lbesar

Standar

15 respons untuk ‘Hukum

  1. Keren, keren! Kalimat penutupnya makjleb. Paling suka paragraf terakhir. 😀 Sayang sekali ketetapan di negeri ini masih berada di bawah kepentingan pihak-pihak tertentu. Mungkin mereka berada di atas angin dan lupa bahwa dunia ini hanya sementara?

    Memang ya, cuma di akhirat di mana hukum berlaku seadil-adilnya, dengan Allah sebagai hakimnya.

    Suka

  2. Hukum harus tetap berjalan, walaupun keadilan tak kan pernah bisa tegak 100 persen. Kemaksiatan akan tetap berlangsung, tetapi amar ma’ruf nahi mungkar tetap relevan untuk selalu disampaikan. Sebab kalau dunia ini baik-baik saja, bagaimana cara menguji keimanan manusia?

    Seberapa besar rusaknya negeri ini, kita perlu optimis tentang masa depan. Karena itulah modal kita menjadi manusia yang ditugaskan oleh Tuhan menjadi khalifah di bumi.

    Nice article, Nunu. Semangat.

    Disukai oleh 1 orang

  3. sebagai rakyat biasa di negeri ini saya hanya bisa berharap, semoga keadilan itu tidak sekedar jargon ketika sedang masa-masa pemilihan, tapi benar-benar nyata dalam keseharian

    Disukai oleh 1 orang

  4. Kalau menurutku, melihat hukum yang salah diartikan itu horor sih. Apalagi kalau adil adalah 50:50 bisa runyam entar. O iya kak, setelah belajar agama barengin sama preposisi yuk! Pasti tambah maknyuss😁.

    Disukai oleh 1 orang

  5. Aku idem dalam hal ini…..”aku lebih memilih apatis untuk hal semacam ini, dan memang kebetulan sudah sangat lama sekali aku tidak mau ikut campur untuk urusan yang tidak mengganggu hajat orang banyak. “

    Disukai oleh 1 orang

  6. “Adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya ”, entah kenapa kalimat ini membuat saya ingin merenungkan lebih mendalam apa artinya keadilan.

    Terima kasih atas postingan menarik ini, Kak Nunu.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s